Untuk kalian para teman, sahabat, atau bahkan keluargaku walaupun kita tak sedarah.
Teruntuk kalian ku mohon tetap tegur aku di saat aku mulai melakukan kesalahan, bimbing aku di saat aku mulai terjerumus dalam hal yang membuatku melakukan dosa, dan tetaplah begitu sampai nanti kita bisa sama-sama meraih surga-Nya. Karena itulah tujuan awal kita.
Aku sulit secara langsung untuk mengatakan hal ini kepada kalian karena aku hanya bisa bercerita tentang kalian di dalam tulisan ini
Melalui postingan ini aku mau bilang kata maaf dan terima kasih
Maaf jika selama ini aku terlalu banyak berbuat salah, but terima kasih kalian selalu memaafkan diri ini dan bahkan tak pernah berpikir untuk pergi dariku
Maaf jika selama ini aku selalu membuat kalian kesal, but terimakasih kalian selalu meredamkan rasa kesal itu dan tak pernah menjauh
Maaf jika selama ini aku selalu banyak membantah atau apapun yang membuat kalian memarahi aku, but terima kasih kalian menugurku tanpa banyak orang lain tahu kesalahan tentangku
Maaf jika selama ini kalian ku jadikan tempat pelampiasan keluh kesahku, but terima kasih kalian bersedia mendengarkan semua itu
Maaf jika selama ini aku masih sering dan selalu merindukan suasana rumah, but terima kasih kalian membuatku tak merasakan kesepian walaupun rindu itu akan selalu hadir
Maaf jika selama ini aku selalu membuat kalian kerepotan, but terima kasih kalian bersedia membantuku
Maaf jika selama ini aku suka tak menyambung, but terima kasih kalian memarahi aku dengan alasan membuatku mengerti
Maaf jika aku sering pulang lama tanpa mengabari kalian, but terima kasih kalian berusaha menghubungiku dan memarahiku dengan alasan kalian khawatir dan perhatian
Maaf jika di saat aku sakit merepotkan kalian, but terima kasih untuk obat yang paling mujarabnya
Maaf jika aku sulit untuk mengikuti perintah kalian yang sebenarnya demi kebaikanku, but terima kasih kalian tidak pernah bosan untuk hal itu,
Maaf dan terima kasihku masih banyak untuk kalian. Kalian sudah seperti keluarga dalam hidupku. Allah mempertemukan kita para jiwa anak perantauan di tanah orang ini dengan alasan kita memiliki tujuan yang sama.
Ketika kita sabar, Tuhan pasti akan memberikan ending yang "bahagia" untuk kita. :)♥ *Allah itu Adil* Percayalah !!!
Sabtu, 28 Oktober 2017
Sabtu, 13 Mei 2017
Terukir Kenangan Indah di Balik Cahaya Bintang
Di
keheningan malam, aku dan saudara kembarku terpaku menatap indahnya langit
malam yang dihiasi oleh cahaya bintang-bintang. Selalu sebelum tidur aku dan
saudara kembarku yang bernama Lala menghabiskan waktu malam kami di taman rumah
untuk membanggakan bintang kami masing-masing. Lala tidak pernah mau kalah
untuk mendapatkan bintang yang paling terang walaupun kecil karena baginya
walaupun bintang yang ia daparkan kecil ketika bersinar terang hal itulah yang
mampu membuatnya merasakan kedamaian dan serasa berguna bagi banyak orang.
“Li, itu bintangku ya,
cantikkan?,” tanya Lala padaku
“Cantikkan bintangku. Itu dia lebih besar daripada bintang kamu. Wek,” ejekku kepada kembaranku
“Tapi bintangkulah yang paling terang, ia bersinar terang hingga cahayanya mampu membuat bintang-bentang lain iri. Bintangku itu tak segan-segan untuk mengeluarkan cahayanya demi menerangi dunia ini, ia selalu menjadi bermanfaat untuk banyak orang. Hal itulah yang membuatku bahagia Li,” katanya kepadaku
“Iya deh iya, aku kalah. Bintangku bersat, tetapi dia tak bersinar terang seterang bintangmu,” kataku mengakui kekalahan
“Aku sayang banget sama kembaranku yang cantik ini karena selalu mengalah demi aku setiap kali kita menatap bintang dan saling membanggakan bintang kita masing-masing. Tetap di sini ya! Jangan tinggalin aku seperti apapun keadaannya! Aku sayang kamu,” kata Lala sambil memelukku dengan erat seakan takut kehilanganku
“Aku juga sayang sama kamu,” jawabku membalas pelukannya
“Cantikkan bintangku. Itu dia lebih besar daripada bintang kamu. Wek,” ejekku kepada kembaranku
“Tapi bintangkulah yang paling terang, ia bersinar terang hingga cahayanya mampu membuat bintang-bentang lain iri. Bintangku itu tak segan-segan untuk mengeluarkan cahayanya demi menerangi dunia ini, ia selalu menjadi bermanfaat untuk banyak orang. Hal itulah yang membuatku bahagia Li,” katanya kepadaku
“Iya deh iya, aku kalah. Bintangku bersat, tetapi dia tak bersinar terang seterang bintangmu,” kataku mengakui kekalahan
“Aku sayang banget sama kembaranku yang cantik ini karena selalu mengalah demi aku setiap kali kita menatap bintang dan saling membanggakan bintang kita masing-masing. Tetap di sini ya! Jangan tinggalin aku seperti apapun keadaannya! Aku sayang kamu,” kata Lala sambil memelukku dengan erat seakan takut kehilanganku
“Aku juga sayang sama kamu,” jawabku membalas pelukannya
Hari pun semakin larut, aku dan Lala
masuk ke rumah. Keesokan harinya, di saat aku terbangun, wajah yang pertama
kaliku lihat adalah wajah saudara kembarku yang begitu masih polos walaupun
kini kami berdua sudahlah kelas tiga SMA. Wajah yang aku lihat ini tidak
seperti biasanya, wajah yang begitu pucat menurutku, dan ia masih nyaman
tertidur yang biasanya selalu bangun lebih awal dari aku. Aku pun memegang
keningnya, betapa panasnya. Aku benar-benar khawatir kepadanya.
“Mama, papa,” teriakku
memanggil orang tuaku dengan rasa cemas
“Ada apa Li?,” tanya mama yang bergegas menyahut teriakan ku
“Lala, kenapa nak?,” tanya mama sambil membuka pintu kamar kami
“Lili, tidak tahu ma. Badannya panas dan wajahnya pucat,” kataku sambil menangis
“La, Lala, bangun sayang!”
“Iya ma,” jawabnya tiba-tiba seperti nada orang sakit
“Pa, bawa Lala ke rumah sakit. Hari ini dia tidak perlu ke sekolah!,” kataku
“Aku tidak kenapa-kenapa Lili. Tolong jangan khawatir! Ini juga akan sembuh tanpa harus ke rumah sakit,” katanya
“Sayang, kita ke rumah sakit ya? Ayo nak!”
“Tidak ma, hari ini aku mau ke sekolah. Ini sudah mendekati akhir SMA ku”
“Ya sudah ma, kalau Lala mau ke sekolah. Aku janji akan jaga dia! Kalau ada apa-apa aku langsung telpon mama atau papa,” kataku
“Tapi Li”
“Sudahlah ma, papa percaya sama mereka,” kata papa meyakinkan mama
“Ya sudahlah. La, kalau ada apa-apa langsung telpon mama ya”
“Baik mamaku sayang”
“Ada apa Li?,” tanya mama yang bergegas menyahut teriakan ku
“Lala, kenapa nak?,” tanya mama sambil membuka pintu kamar kami
“Lili, tidak tahu ma. Badannya panas dan wajahnya pucat,” kataku sambil menangis
“La, Lala, bangun sayang!”
“Iya ma,” jawabnya tiba-tiba seperti nada orang sakit
“Pa, bawa Lala ke rumah sakit. Hari ini dia tidak perlu ke sekolah!,” kataku
“Aku tidak kenapa-kenapa Lili. Tolong jangan khawatir! Ini juga akan sembuh tanpa harus ke rumah sakit,” katanya
“Sayang, kita ke rumah sakit ya? Ayo nak!”
“Tidak ma, hari ini aku mau ke sekolah. Ini sudah mendekati akhir SMA ku”
“Ya sudah ma, kalau Lala mau ke sekolah. Aku janji akan jaga dia! Kalau ada apa-apa aku langsung telpon mama atau papa,” kataku
“Tapi Li”
“Sudahlah ma, papa percaya sama mereka,” kata papa meyakinkan mama
“Ya sudahlah. La, kalau ada apa-apa langsung telpon mama ya”
“Baik mamaku sayang”
Dengan kepercayaan papa dan mama,
Lala dan aku segera bergegas beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk
pergi ke sekolah. Setelah selesai, tek seperti biasanya papa dan mama mengantar
kami ke sekolah, mungkin karena takut terjadi apa-apa pada Lala.
Pembelajaran dimulai, ku lihat
kembaranku wajahnya semakin pucat dan terlihat begitu lemas tak berdaya.
Perlahan demi perlahan, kepalanya terjatuh di atas meja. Aku yang begitu
khawatir langsung berteriak, teriakanku mampu membuat teman-teman dan juga guru
yang mengajar di depan memalingkan wajahnya ke arah aku dan kembaranku ini.
“Lala, bangun!,”
teriakku meminta Lala untuk bangun
“Ada apa Li?,” tanya guru
“Bu, si Lala tiba-tiba pingsan. Tolong bu!”
“Tenang-tenang La, jangan khawatir! Lebih baik kamu telpon orang tua kamu sekarang nak!,” perintah ibu guru yang membuatku melupakan untuk mengabari mama dan papa
“Ada apa Li?,” tanya guru
“Bu, si Lala tiba-tiba pingsan. Tolong bu!”
“Tenang-tenang La, jangan khawatir! Lebih baik kamu telpon orang tua kamu sekarang nak!,” perintah ibu guru yang membuatku melupakan untuk mengabari mama dan papa
Aku segera menelpon mama, dengan
keadaan aku yang masih khawatir karena keadaan Lala yang tak sadarkan diri di
jam pelajaran seperti ini. Lima belas menit kemudian, mama telah datang. Aku
dan yang lainnya sedang menjaga Lala di UKS. Karena paniknya mama langsung
membawa Lala ke rumah sakit. Aku pun ikut dengan mama untuk memastikan keadaan
Lala baik-baik saja tanpa ada penyakit di tubuhnya.
“Tuhan, aku mohon tetap lindungi Lalaku. Aku tidak ingin kehilangannya!,” kataku dalam hati ini
“Tuhan, aku mohon tetap lindungi Lalaku. Aku tidak ingin kehilangannya!,” kataku dalam hati ini
Sesampai di rumah sakit, Lala
langsung diperiksa oleh dokter. Setelah semalam di rumah sakit, akhirnya test
pemeriksaan pun keluar. Papa dan Mama di panggil untuk menghadap dokter. Aku
ingin ikut, tetapi mama menghalangiku, dengan alasan aku harus menjaga Lala.
Namun, aku begitu penasaran. Hingga aku bertekad diam-diam menuju ruang dokter
yang sudah ada mama dan papa di dalamnya.
“Maafkan,
Lili ya pa, ma! Aku begini karena aku sayang sama kalian semua,” kataku dalam
hati
Dokter pun mulai membuka map yang
telah berisi hasil test kembaranku Lala, test yang bisa saja membuat ku bahagia
jika tidak ada penyakit ditubuhnya, dan membuatku down jika kutahu ada penyakit yang ia derita.
“Pak, bu, sebenarnya
berat sekali untuk memberitahukan tentang hasil test anak bapak dan ibu, tetapi
ini harus di sampaikan. Seberat apapun dan serumit apapun hal ini, saya harap
kalian tetap tegar, kalau anak kalian mengidap penyakit Leukimia yang hampir
memasuki stadium akhir,” jelas dokter yang sebenarnya tak ingin membuat
kesedihan
“Lala, tidak mungkin dok. Aku tahu kalau dokter pasti salah periksa, itu bukan hasil test adik saya,” kataku yang membuat mama dan papa terkejut melihatku telah ada di sana
“Li,” kata mama yang langsung memeluk erat tubuhku
“Lala tidak mungkin terserang penyakit itu ma, pa. Dokter ini salah!,” kata ku menangis tersedu-sedu
“Lala, tidak mungkin dok. Aku tahu kalau dokter pasti salah periksa, itu bukan hasil test adik saya,” kataku yang membuat mama dan papa terkejut melihatku telah ada di sana
“Li,” kata mama yang langsung memeluk erat tubuhku
“Lala tidak mungkin terserang penyakit itu ma, pa. Dokter ini salah!,” kata ku menangis tersedu-sedu
Papa dan mama menguatkanku agar Lala
juga kuat menghadapi penyakitnya. Aku, papa, dan mama tidak boleh menunjukkan
kesedihan kami di hadapan Lala karena hal itu juga mampu membuatnya bersedih.
Aku harus kuat dan membuat Lala bahagia. Aku janji akan menemaninya hingga dia
sembuh.
Hari demi hari, penyakit yang
diderita Lala semakin parah. Hingga hari itu membuatku meneteskan air mataku di
hadapannya.
“Li,
kenapa kamu sedih? Lalamu ini akan sembuh dan kita akan lihat bintang sama-sama
lagi. Tetap semangat dong demi aku!,” katanya menguatkanku
“Iya
adikku, kembaranku, dan juga sahabatku,” kataku menggenggam tangannya
Ia
memang tak pernah tahu penyakit apa yang menyerangnya hingga membuatnya tak
diizinkan pulang ke rumah dan bersekolah seperti aku. Namun, dia tetap
bersemangat yang justru membuatku kalah semangatnya dari dia.
Di
sekolah aku ditunjuk untuk pergi ke Singapure mengikuti cerdas cermat, jika aku
menang maka aku akan dibiayai untuk melanjutkan pendidikanku ke Singapure. Aku
menyesetujuinya tanpa memikirkan keadaan kembaranku yang masih terbaring lemah
di tempat tidur rumah sakit. Kabar bahagia ini ku beritahukan pada mama dan
papa, kalau tiga hari lagi test ini akan dimulai sehingga esok aku harus pergi
ke Singapure bersama wali kelasku. Papa dan mama sangat senang. Namun, di saat
aku memberi tahukan hal ini kepada Lala, ia tak mengizinkan aku pergi.
“Aku mohon Li, jangan
pergi tinggalkan aku!,” katanya sambil memegang tanganku
“La, aku pergi hanya 3 hari kok, begitu selesai lombanya aku janji langsung pulang untuk menemui kamu!,” kataku
“Tapi, untuk saat ini saja jangan tinggalin aku!,” katanya mengulangi perkataan sebelumnya
“Lalaku, ini kesampatan emas yang harus aku ambil dan tak boleh aku sia-siakan karena ini sekali seumur hidup, semantara kalau kebersamaan kita, di hari setelah aku pulang pun kita akan masih bertemu lagi”
“Ya sudah pergilah, kejar impianmu!”
“Terima kasih ya. Aku janji akan segera pulang dan menemui kamu”
“La, aku pergi hanya 3 hari kok, begitu selesai lombanya aku janji langsung pulang untuk menemui kamu!,” kataku
“Tapi, untuk saat ini saja jangan tinggalin aku!,” katanya mengulangi perkataan sebelumnya
“Lalaku, ini kesampatan emas yang harus aku ambil dan tak boleh aku sia-siakan karena ini sekali seumur hidup, semantara kalau kebersamaan kita, di hari setelah aku pulang pun kita akan masih bertemu lagi”
“Ya sudah pergilah, kejar impianmu!”
“Terima kasih ya. Aku janji akan segera pulang dan menemui kamu”
Keesokan harinya aku pun pergi,
walaupun aku tahu Lala sangat enggan melepasku untuk pergi. Namun, ini demi
impianku untuk membuatnya bahagia juga.
Aku telah sampai di Singapure tepat
di Universitas kebanggaanku. Aku terlalaikan untuk menghubungi keluargaku kalau
aku sudah sampai karena indahnya dan bahagianya hatiku berada di sini. Hingga
keesokan harinya, mama menelponku dan menanyakkan kabarku serta memberikan
semangat kepadaku untuk lomba besok. Setelah itu, aku meminta mama untuk
memberikan ponselnya kepada Lala. Aku berbicara pada Lala.
“Hallo, Lala
kesayangannya Lili”
“Hallo juga sayang. Semangat ya buat besok, semoga apa yang kamu impikan jadi kenyataan. Jangan lupa berdoa sertakan Allah untuk jalan hidupmu! Oh ya, coba kamu lihat keluar dan lihat bintang yang paling terang, karena di sana ada adikmu ini yang sedang tersenyum denganmu. Di saat kakakku ini, rindu sama aku. Lihat saja bintang yang paling terang dimanapun nanti kamu berada”
“Iya iya, tenang saja deh. Ini untuk terakhir kalinya aku dan kamu melihat bintang tidak lagi bersama. Besok setelah lomba, aku janji langsung pulang ke Indonesia, negara tercinta yang di dalamnya ada orang kuat dan hebat seperti kamu”
“Asallah. Ya sudah kamu tidur sana! Besok kesiangan lagi. Assalamualaikum”
“Baik bos. Waalaikum salam. Cepat sembuh ya!”
“Hallo juga sayang. Semangat ya buat besok, semoga apa yang kamu impikan jadi kenyataan. Jangan lupa berdoa sertakan Allah untuk jalan hidupmu! Oh ya, coba kamu lihat keluar dan lihat bintang yang paling terang, karena di sana ada adikmu ini yang sedang tersenyum denganmu. Di saat kakakku ini, rindu sama aku. Lihat saja bintang yang paling terang dimanapun nanti kamu berada”
“Iya iya, tenang saja deh. Ini untuk terakhir kalinya aku dan kamu melihat bintang tidak lagi bersama. Besok setelah lomba, aku janji langsung pulang ke Indonesia, negara tercinta yang di dalamnya ada orang kuat dan hebat seperti kamu”
“Asallah. Ya sudah kamu tidur sana! Besok kesiangan lagi. Assalamualaikum”
“Baik bos. Waalaikum salam. Cepat sembuh ya!”
Keesokan harinya pun, lomba dimulai.
Aku tahu jantungku berdegup kencang, tetapi aku tak boleh mengecewakan mereka
yang telah mengizinkanku dan memercayaiku untuk ikut serta dalam lomba ini.
Pertanyaan demi pertanyaan pun, aku jawab dengan santai dan percaya diri yang
ternyata jawabanku rata-rata benar. Pengumuman pun akan diberitahukan, aku
sangat terkejut, namaku dipanggil sebagai pemenang juara ke-II dan diminta
untuk maju ke atas panggung.
Begitu selesai acara, aku langsung
meminta pulang kepada wali kelasku. Ponsel pun aku matikan agar mama tidak
menghubungi aku. Karena aku tahu pasti mama ingin tahu hasilnya, biarlah ini
menjadi kejutan di saat nanti aku sampai ke Indonesia.
Keesokan
harinya aku telah sampai di Indonesia, sebelum ke rumah sakit aku diantar terlebih
dahulu ke rumah. Sesampai di rumah, aku sangat kaget melihat telah adanya
bendera kuning tepat di depan rumahku. Ku jatuhkan semua yang ada di tanganku
dan berlari memasuki rumah yang telah ramai orang.
“Lala, bangun! Jangan
tinggalkan aku! Aku sudah menepati janjiku untuk segera pulang. Aku menang La,
lihat kakakmu ini dia sudah mendapatkan universitas impiannya. Aku mohon bangun
aku ingin menikmati kebagaian ini sama kamu. Bangun adikku!” teriakku menangis
“Nak, sudah ya! Jangan seperti ini!,” kata mama
“Mengapa mama tidak langsung kabari aku?,” kataku memarahi mama
“Mama dan papa sudah berusaha menelpon kamu, tetapi ponsel kamu tidak aktif”
“Nak, sudah ya! Jangan seperti ini!,” kata mama
“Mengapa mama tidak langsung kabari aku?,” kataku memarahi mama
“Mama dan papa sudah berusaha menelpon kamu, tetapi ponsel kamu tidak aktif”
Aku benar-benar menyesal karena
telah mematikan ponselku, tetapi dengan alasan yang baik aku ingin membuat mereka
bahagia. Namun, malah aku yang bersedih. Aku benar-benar menyesal. Mama pun
memelukku dan memberikan surat dengan selembar kertas kepadaku.
“Ini
dari Lala,” kata mama memberi surat dari Lala kepadaku
Aku pun membaca surat itu di hatiku
dengan disaksikan Lala yang sudah tak bernafas lagi dan telah pergi
meninggalkanku dan yang lainnya untuk selamanya.
“Assalamualaikum kembaranku, maafkan aku yang pergi tanpa seizinmu. Ini yang aku takutkan sebelumnya kalau aku akan pergi untuk selamanya di saat tidak adanya kamu di sampingku, menemaniku, dan menjagaku hingga detik terakhir aku bernafas di dunia ini. Tetapi waktu itu kamu memaksaku untuk memberikan izin kepadamu demi meraih impianmu. Aku juga yakin waktu itu masih ada pertemuan diantara kita setelah kamu pulang dari Singapure, iya kita masih bertemu, tetapi dengan aku yang sudah tak bisa memegang tanganmu, tertawa bersamamu, dan melihat bintang bersamamu lagi. Dan kamu salah besar jika waktu itu di telpon kamu berkata kalau itu adalah hal terakhir kalinya aku dan kamu melihat bintang dalam keadaan tidak bersama, justru itu terakhir kalinya kamu mendengar suara aku yang di saksiakan oleh jutaan bintang di langit, terakhir kalinya kita melihat bintang masih di bawah langit yang sama meskipun dengan negara yang berbeda. Kalau kamu mulai merindukanku lihatlah keluar, selalu ada bintang yang bersinar terang untuk kamu. Ingat itu punyaku, adikmu! Ia akan tersenyum melihatmu jika kamu juga tersenyum untuknya, dan jangan bersedih karena ia juga akan bersedih! Dan tangannya takkan sanggup meraih pipimu untuk menghapus air mata yang jatuh. Aku menyayangimu karena Allah. Ikhlaskan aku untuk pergi! Tetap selalu banggai papa dan mama karena harapan mereka ada pada kamu kembaranku. Putri mereka tinggal satu, jangan kecewakan mereka! Kuatkan mereka dan yakinkan mereka kalau aku akan bahagia jika melihat mereka bahagia di dunia! Dari kembaran, adik sekaligus sahabat suka dukamu,” isi surat itu
Aku pun meneteskan air mataku di hadapannya, meskiku tahu
ia takkan suka jika melihatku menangis. Aku memeluknya dengan erat dan dengan
harapan kalau dia akan membalas pelukan ini dan menghapus air mata duka ini.
Aku tidak boleh berlarut dalam kesedihan karena hidup akan terus berjalan
dengan semestinya meskipun tanpa Lala di sini aku harus tetap kuat.
“Assalamualaikum kembaranku, maafkan aku yang pergi tanpa seizinmu. Ini yang aku takutkan sebelumnya kalau aku akan pergi untuk selamanya di saat tidak adanya kamu di sampingku, menemaniku, dan menjagaku hingga detik terakhir aku bernafas di dunia ini. Tetapi waktu itu kamu memaksaku untuk memberikan izin kepadamu demi meraih impianmu. Aku juga yakin waktu itu masih ada pertemuan diantara kita setelah kamu pulang dari Singapure, iya kita masih bertemu, tetapi dengan aku yang sudah tak bisa memegang tanganmu, tertawa bersamamu, dan melihat bintang bersamamu lagi. Dan kamu salah besar jika waktu itu di telpon kamu berkata kalau itu adalah hal terakhir kalinya aku dan kamu melihat bintang dalam keadaan tidak bersama, justru itu terakhir kalinya kamu mendengar suara aku yang di saksiakan oleh jutaan bintang di langit, terakhir kalinya kita melihat bintang masih di bawah langit yang sama meskipun dengan negara yang berbeda. Kalau kamu mulai merindukanku lihatlah keluar, selalu ada bintang yang bersinar terang untuk kamu. Ingat itu punyaku, adikmu! Ia akan tersenyum melihatmu jika kamu juga tersenyum untuknya, dan jangan bersedih karena ia juga akan bersedih! Dan tangannya takkan sanggup meraih pipimu untuk menghapus air mata yang jatuh. Aku menyayangimu karena Allah. Ikhlaskan aku untuk pergi! Tetap selalu banggai papa dan mama karena harapan mereka ada pada kamu kembaranku. Putri mereka tinggal satu, jangan kecewakan mereka! Kuatkan mereka dan yakinkan mereka kalau aku akan bahagia jika melihat mereka bahagia di dunia! Dari kembaran, adik sekaligus sahabat suka dukamu,” isi surat itu
Jumat, 12 Mei 2017
Harapan untuk Masa Depan
Setiap
pagi aku selalu bangun pukul 05.00 WIB untuk memulai setiap aktivitasku.
Sekarang aku telah memasuki kelas baru dimana aku telah duduk di kelas XII.
Jadwalku semakin padat tak menentu. Pergi dari rumah pukul 07.00 WIB dan
kembali ke rumah pukul 18.00 WIB demi sebuah masa depan yang indah di hari tua
nanti. Namun, sepadat apapun jadwalku aku tetap menyalurkan bakatku untuk
menulis harapanku di diary ku dan jika sempat aku menulis di buku khusus untuk
karya-karyaku dan menyalurkan bakatku itu ke dalam blog yang sudah lima tahun
aku miliki.
Minggu yang indah untukku
mempersibukkan diri untuk mengambil pena dan merangkai kata-kata indah hingga
membentuk cerita pendek yang kemudian aku salurkan ke dalam blogku.
Pada saat itu pula aku meneteskan
air mataku karena sedikit sekali yang mengunjungi blogku, aku hampir saja
membanting laptopku dan berteriak. Syukurnya aku masih bisa meredamkan emosiku.
Aku hanya mengeluh di dalam hatiku saja.
“Aku
sudah menyempatkan diriku untuk menulis dan menyalurkan bakatku agar bisa di
baca banyak orang dan aku bisa menjadi penulis terkanal. Namun, mengapa Tuhan
tak mengirimkan aku banyak orang untuk bisa melihat tulisan-tulisanku ini. Apa
tulisanku tidak bernilai baik dan tidak bermanfaat bagi banyak orang? Ataukah
mutuku sangatlag rendah. Tuhan, aku berhenti di sini. Aku berhenti di dunia
tulisan ini, jika tak seorang pun mampu menghargai tulisanku ini,” keluhku di
hati ini yang hampir membuat dadaku sesak
Akhirnya, aku memutuskan untuk fokus
pada sekolahku agar aku bisa mendapatkan nilai yang baik dan masuk ke PTN yang
selalu aku damba-dambakan dari dulu.
Dengan giatnya aku selalu belajar
dan mampu membuatku melupakan kehidupanku yang penuh dengan rangkaian kata dan
tulisan selama ini. Cukup sudah selama enam tahun saja aku berkarya di dunia
tulisan.
Seiring berjalannya waktu, kini aku
telah lulus SMA dan masih menunggu kepastian akankah aku berkuliah di kampus
idamanku selama ini. Aku banyak-banyak berusaha dan takkan kulupakan untuk senantiasa
berdoa agar Tuhan menyertai setiap langkahku.
Aku mengikuti jalur tulis, satu hari
sebelum test itu dimulai aku memutuskan untuk tidak belajar lagi, tetapi masih
tetap selalu berdoa.
Hingga kini telah tiba hari dimana
aku akan mengikuti test ini, test yang membuatku keringat dingin dan jantungku
berdebar dengan sangat kencang ketika melihat pengawas dan lawanku di medan
pertempuran ini. Namun, aku mencoba menenangkan diriku kalau aku mampu
menaklukan soal-soal ini dengan jawaban yang benar.
Soal demi soal pun ku jawab.
Sebenarnya aku tidak terlalu yakin pada semua jawabanku, tetapi aku percaya
suatu saat aku akan menuntut ilmu di Universitas impianku.
Hingga kini tibalah saatnya
pengumuman, semua angkatan kami yang mengikuti test ini diminta untuk ke
sekolah agar melihat hasil pengumumannya bersama-sama dengan pihak sekolah.
Awalnya aku sangat takut dan menjadi
seseorang yang tak percaya diri. Aku benar-benar takut dan malu jika nanti aku
tidak lulus sehingga membuatku menangis karena kesedihan di hadapan banyak
orang. Namun, ibu menghampiriku dan memelukku erat. Dekapannyalah yang
membuatku percaya diri lagi kalau suatu saat aku bisa membahagiakannya.
“Ika,
pergilah nak!,” perintah ibu kepadaku yang meminta aku untuk bersiap-siap ke
sekolah
“Tapi
bu, aku sangatlah takut”
“Nak,
jika ini memang yang terbaik untuk kamu pasti Tuhan akan beri, tetapi jika
tidak percayalah Tuhan akan beri lebih dari ini,” kata ibu meyakinkanku
“Baiklah
bu, aku akan pergi ke sekolah”
Langkah ini membuatku mampu kembali
menginjakan kakiku di SMA ku ini. Semua orang terlihat begitu tegang untuk
melihat hasil pengumuman ini. Semuanya senantiasa berdoa agar hasilnya baik.
Kini satu persatu pun namanya di
buka oleh operator sekolah. Jantung ini pun semakin berdebar tak menentu, untuk
menenangkan diripun sudah tak ampuh lagi.
Nama demi nama pun dibuka, ada yang
menangis karena kesedihan dan ada yang menangis karena kebahagian. Ada yang
menjerit karena lulus dan ada yang merintih karena tidak lulus. Ada yang
tersenyum menguatkan diri yakin jika ada yang lebih baik dari ini dan ada yang
tersenyum bahagia karena dapat diterima di sebuah PTN pilihannya. Ada yang yang
mendapatkan selamat dari semuanya dan ada yang mendapatkan semangat agar tidak
putus asa.
Telah tiba namaku dan nomor ujianku
di cantumkan. Aku yang hanya bisa memejamkan mataku saat nama dan nomorku telah
terlihat.
“Ika,
kamu lulus. Selamat ya,” kata operator sekolah
“Alhamdulillah,”
kataku sambil bersujud syukur
Setelah selesai segalanya di sekolah, aku pun
langsung pulang untuk memberikan kabar gembira ini kepada ayah dan ibuku yang
juga sedang menanti aku pulang dengan harapan aku bisa membawa kabar yang
bahagia.
Di saat aku telah sampai di rumah,
ibu langsung memelukku dan berbisik tepat di telingaku. Satu kalimat yang
membuatku bertekad kalau kedua orang tuaku harus bahagia.
“Kami
bangga sama kamu nak,” kata ibuku sambil meneteskan air matanya di pundakku
“Ibu,
jangan menangis! Karena aku membawa kabar bahagia bukanlah duka,” kataku sambil
menghapus air mata ibu
“Belajar
yang rajin ya nak. Jangan putus asa apalagi berpikir untuk mnyerah saat nanti
kamu benar-benar telah merasakan persaingan yang hebat!,” kata ayah
Hari demi hari aku pun sibuk
mengurus segala perlengkapan perkulihanku. Hingga tiba saatnya hari ini aku
menginjakan kakiku di Universitas impianku selama ini untuk memulai menuntut
ilmu di sini.
Di Universitas ini, aku benar-benar
merasakan persaingan yang hebat dengan orang-orang yang hebat pula. Jika
dibandingkan dengan persaingan semasa aku sekolah dulu tidaklah ada apa-apanya.
Meski aku tahu mereka orang-orang
yang akan berjuang sekaligus bersaing denganku sangatlah cerdas-cerdas, tetapi hal
itu tidak boleh mematahkan semangatku. Karena aku telah diberikan kesempatan
untuk bisa belajar di sini dan takkan ku sia-siakan hal ini.
Malam
hari yang begitu indah dengan hiasan-hiasan bintang di langit sana, aku duduk
di teras rumah ditemani dengan secangkir susu hangat buatan ibu. Aku menatap
bintang-bintang yang mampu membuat hatiku senyaman ini.
“Betapa
indah ciptaan Tuhan,” kataku terkagum-kagum
Pikiranku tentang bintang-bintang
itu pun dibuyarkan oleh dering-dering di hpku. Aku pun meraihnya dan
membukanya. Aku sangat terkejut meliat beberapa broadcast yang sama dari teman-
pengunjungnya. Namun, seketika membaca broadcast dari mereka yang berisi
tentang memuji-muji karya-karyaku yang sudah begitu terlalu lama, aku sangat
terharu dan ingin kembali ke dalam dunia tulis yang memang sudah aku gemari
dari aku SMP.
Aku juga mendapat banyak bbm dari
teman-temanku, adik-adik, dan kakak-kakak kelas agar melanjutkan tulisanku. Aku
juga berharap begitu, tetapi apalah dayaku karena dengan alasan pengunjungnya
sunyi dan lantas aku memilih untuk berhenti di dunia tulis dan fokus pada perkuliahanku
untuk meraih cita-citaku menjadi seorang dosan di kemudian hari. Walaupun aku
masih berharap untuk bisa menjadi seorang dosen matematika sekaligus juga
menjadi seorang penulis terkenal.
Isi setiap bbm yang mereka kirim ke
aku membuatku merasa kalau suatu saat nanti aku akan menjadi seorang penulis
terkenal. Seolah-olah semangatku hadir lagi untuk kembali pada dunia tulis.
Awalnya, aku sangat ragu untuk
kembali kepada dunia tulis karena jadwal perkulihanku begitu padat dan aku
takut kalau ini akan menghambat perkuliahanku. Namun, sebuah bbm membuat hatiku
tersentak dan dia begitu percaya kalau aku mampu.
“Ka,
begitu banyak yang kirim broadcast yang sama mengenai blogmu itu. Aku mohon
lanjutkan tulisan-tulisanmu sayang. Mulailah ambil pena lagi dan rangkailah
kata demi kata yang akan menjadi cerita yang sangat mengharukan. Lihat para
temanmu mendukungmu semua. Mereka yakin kalau kamu bisa ka,” isi bbm tersebut
yang dikirimnya kepadaku
“Aku
takut kalau aku tidak mampu membagi waktuku antara dunia tulis dan
perkulihanku,” balasku kepadanya
“Jangan
kamu anggap kalau dengan berkarya dat menghambat perkulihanmu!,” balasnya
“Aku
tidak percaya pada diriku kalau aku bisa,” balasku
“Lihat
kami! Kami yang menunggu karya-karya terbaikmu muncul kembali di blog kamu.
Kami percaya kalau kamu bisa dan seharusnya kamu lebih percaya kalau dirimu
juga bisa. Jangan kecewakan kami Ka!,” balasnya
Sungguh kata-katanya membuatku
menggetar dan mulailah mendetakan jantung ini. Mereka begitu percaya kepadaku
dan aku tidak ingin mengecewakan mereka. Tetapi aku masih berpikir seribu kali
dalam mengambil keputusan untuk kembali kepada dunia tulis.
Aku melangkah menuju kamar mandi
untuk berwudhu dan melaksanakan shalat dua raka’at agar keputusanku ini tidak
berdampak buruk padaku dan juga yang lainnya.
Ku bentangkan sajadah hijauku,
sajadah pemberian ayah dengan harapan aku bisa menjadi anak yang sholeh dan
mampu membawa mereka ke syurga melalui pintu mana saja.
Aku memulai shalatku. Di sujud
terakhir, aku utarakan kebimbanganku mengenai hal yang aku rasakan agar
keputusanku nanti tidaklah menjerumuskanku dan juga orang-orang di dalamnya.
Ku temukan kedamaian di dalamnya
yang mampu membuat hilangnya rasa kebimbangan ini. Aku pun memutuskan untuk
memilih melanjutkan tulisan-tulisanku lagi dan tetap fokus pada perkuliahanku.
Karena mereka percaya aku bisa dan seharusnya aku juga percaya kalau aku mampu.
Sebisa mungkin aku akan membagi waktuku agar aku mampu menyeimbangkan segalanya
dan takkan ku biarkan salah satunya terabaikan.
Sang mentari telah menyambut bangun
pagiku hari ini, aku siap menjalani hidupku dengan harapan kalau suatu saat
nanti aku bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang.
Sebelum aku pergi ke kampus tak lupa, ku buka diary yang telah lama tak ku
coret-coret dengan harapku sebelum aku berangkat ke sekolah dulu. Diary yang
telah ku biarkan berdebu disaat dulu aku memutuskan untuk berhenti menulis
apapun yang berhubungan dengan bakatku ini.
“Huk
huk huk,” aku pun batuk dibuat oleh debu yang telah menutupi diary pinkku itu
Perlahan demi perlahan ku bersihkan
debunya hingga kini kembali menjadi diary yang sangat ku sayangi. Dahulu diary
inilah yang menjadi teman curhatku semasa aku duduk di bangku SMP. Bersamanya
aku damai dan tenang walauku tahu diary makhluk mati, dia tidak akan memberikan
solusi padaku sedikitpun karena dia bisu. Namun, entah mengapa aku nyaman jika
telah menuliskan apa yang ada di hati ini kepadanya.
Aku mulai mengambil penaku dan
membuka perlahan lembaran demi lembaran yang sudah banyak terisi, tetapi harus
berhenti di tengah lembaran yang masih kosong hingga lembar terakhir kertas
diaty tersebut.
“Terima
kasih Tuhan atas segala apapun yang membuatku mampu bertahan hari ini. Yang
membuatku mampu merasakan kedamaian di dalam duniaku ini. Tuhan aku mohon bantu
aku untuk bisa membagi waktuku antara perkuliahanku dengan dunia tulisku. Tuhan
dari aku kecil aku ingin menjadi seorang dosen matematika agar aku bisa
menuangkan ilmuku pada mereka yang membutuhkanku dan semenjak aku SMP aku
berkhayal untuk bisa menjadi seorang penulis terkenal hingga aku sibuk
menuangkan tulisanku di diary dan memilih untuk menyebarkan karyaku melalui
blog yang ku buat dengan harapan suatu saat aku bisa menyalurkan bakatku di
sana dan menjadi penulis yang berguna bagi para fansku kelak. Hingga kini aku
memutuskan suatu saat nanti aku akan menjadi sosok seorang dosen yang mampu berkarya
di dunia tulisan. Tuhan aku tahu rencanaMu lebih indah dari yang aku bayangkan
saat ini. Apapun yang terjadi untuk masa depanku nanti aku percaya aku akan
bahagia,” tulisanku pun berhenti karena aku harus ke kampus menuntut ilmu
Aku berharap setiap usaha dan doaku
akan datang di kehidupanku ini. Aku juga percaya pada Tuhan kalau Dia akan
memberi yang lebih indah lagi dari apa yang aku impikan di masa depanku untuk
bisa menjadi dosen matematika yang juga berkarya di bidang karya tulis. Yang
kelak akan mendapatkan banyak penghargaan dari para orang-orang yang ada di
sekitarku nanti. Dan para fans yang selalu mendukungku hingga nafasku berhenti
dengan sendirinya.
Kamis, 30 Maret 2017
Cerpen-Diary untuk Sang Jodoh
Diary
untuk Sang Jodoh
Kini aku telah menjalani usia yang
ke-24 tahun, aku sedang menjalani S2 di Universitas Negeri impianku. Selama itu
pula aku tetap menjaga pandanganku dan hatiku kepada lelaki yang bukan
mahramku. Aku akan tetap menunggu pemilik tulang rusuk yang ada di dalam
tubuhku ini. Tulang rusuk yang di amanahkan Allah agar tetap ku jaga karena dia
merupakan jodoh dunia akhiratku.
Ku lihat diary mungil yang terletak
di atas mejaku. Diary yang khusus aku tuliskan dengan indahnya untuk sang kekasih
halalku kelak. Ku raih diary itu dan mulailah aku menarikan penaku di atasnya.
Dear jodoh,,,,
Dimana pun kamu berada dan siapa pun kamu, aku selalu percaya kalau kamulah yang terbaik yang dikirimkan sang Rabb untukku. Sang kekasih yang tak tahu dimana keberadaannya, aku di sini masih menunggu kehadiranmu dan terus mendoakanmu agar segera menghalalkanku. Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita berdua.
Dimana pun kamu berada dan siapa pun kamu, aku selalu percaya kalau kamulah yang terbaik yang dikirimkan sang Rabb untukku. Sang kekasih yang tak tahu dimana keberadaannya, aku di sini masih menunggu kehadiranmu dan terus mendoakanmu agar segera menghalalkanku. Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita berdua.
Buku diary yang awalnya lembaran itu
kosong dan bersih. Kini telah ternodai dengan tinta-tinta penaku dengan
rangkaian kata yang indah. Rangkaian kata indah yang ku tulis dengan penuh
kasih sayang dan juga dengan penuh harapan ia juga akan menjaga pandangannya
kepada wanita-wanita yang bukan mahramnya dan akan tetap berusaha serta berdoa
agar segera menghalalkanku. Walaupun kami belumlah saling mengenal untuk saat
ini. Namun, aku selalu percaya Allah akan mempertemukanku dengan dia yang baik
dan juga dengan cara yang baik.
Setelah selesai, aku pun segera
pergi ke kampus. Dengan wajah yang tetap memancarkan semangat yang luar biasa
dan berharap kalau semuanya akan berjalan dengan baik tanpa ada rasa kekecewaan
ataupun penyesalan karena sesuatu yang akan terjadi nanti.
Setiap kali aku berjalan melewati
lorong demi lorong untuk menuju ruanganku, ada saja lelaki yang mengucapkan
salam padaku dan menebarkan pesona mereka, tetapi aku akan tetap menjaga hati
dan pandanganku. Namun, tak lupa untuk menjawab salam mereka karena mengucapkan
salam hukumnya wajib. Sambil melangkah, hatiku seolah-olah berkata tanpa ada ku
perintah untuk berbicara mengenai ini.
“Untukmu
sang kekasih halalku kelak, aku mohon jagalah pandanganmu kepada siapapun
wanita yang bukan mahrammu karena aku pun juga seperti itu. Tetaplah menunggu
kehadiranku di waktu dan tempat yang telah Allah takdirkan untuk kita berdua,”
kata hatiku
Akhirnya, aku sampai di ruangan. Aku
pun segera duduk di kursi paling depan agar aku dapat lebih mengerti pelajaran
yang disampaikan dosenku nanti.
Selain menjalani masa S2 ini, aku
juga mengajar di sekolah SMA Negeri A. Di sana aku mendapatkan keluarga baru
yang membuatku mampu berkarya dan membimbing mereka yang ku harap kelak mereka
mampu menjadi insan pembangun bangsa yang berkarakter. Setiap sesampai rumah,
aku selalu menyempatkan diri untuk menulis.
Dear Jodoh,,,
Aku masih disini, masih menunggumu bersama dengan doa yang selalu ku utarakan pada Allah untuk setiap kebaikan dan kelancaran untuk apapun yang kamu lakukan demi menghalalkanku. Semoga Allah mengiringi setiap langkahmu, ku harap kamulah jodoh dunia akhiratku. Aamiin
Aku masih disini, masih menunggumu bersama dengan doa yang selalu ku utarakan pada Allah untuk setiap kebaikan dan kelancaran untuk apapun yang kamu lakukan demi menghalalkanku. Semoga Allah mengiringi setiap langkahmu, ku harap kamulah jodoh dunia akhiratku. Aamiin
Hari ini merupakan hari istimewa
wanita terhebatku. Aku sudah mengumpulkan uang untuk membelikan kado terindah
untuknya yaitu mukena yang terukir indah yang memang sudah aku rencanakan akan
aku beli setelah uangku terkumpul. Dan aku juga sudah memesan kue yang indah
nan lezat untuk bunda tercinta. Namun, semuanya hancur. Aku terjatuh tersandung
batu kecil yang benar-benar membuatku merasa kecewa dan serasa kalau usahaku
untuk mengumpulkan uang sia-sia. Kue yang telah di tanganku kini telah terjatuh
dan mengenai mukena indah ibuku. Kue hancur dan mukena ternodai oleh mentega
warna-warni kue.
Aku pun menangis, tetapi seseorang
memberikan sapu tangannya kepadaku. Namun, aku hanya menunduk tanpa melihat
siapa dia. Ketika mendengar dia berkata, seolah aku mengenal suaranya dan
hatiku berdetak dengan kencang saat ini.
“Ini ambil,” kata dia
“Ini ambil,” kata dia
Aku pun mengangkat kepalaku dan
memberanikan untuk melihatnya. Ternyata, dia adalah teman semasa S1 ku dulu.
Teman yang selalu ada untukku dan sempat menyatakan cinta padaku hingga
memintaku untuk menunggunya.
2
Tahun lalu
Di sebuah taman, seseorang lelaki
menghampiriku dan duduk di sebalahku. Seseorang yang selalu membuat jantungku
berdetak tidak seperti biasanya.
“Ka,” katanya memulai
membicaraan
“Iya,” jawabku dengan menundukan pandanganku
“Sebelum terlambat dan sebelum kita akan pergi meraih impian kita masing-masing, aku ingin berkata sesuatu kepadamu. Aku tidak bisa lagi memendam perasaan ini, perasaanku kepadamu. Aku tahu kalau kamu tidak akan mungkin mau menerima cintaku saat ini. Dan aku mohon tunggu aku hingga nanti telah Allah tentukan di saat yang tepat dengan waktu yang tepat pula. Aku mohon Rika. Aku janji akan menjemputmu di saat yang tepat,” kata Diki temanku
“Iya,” jawabku dengan menundukan pandanganku
“Sebelum terlambat dan sebelum kita akan pergi meraih impian kita masing-masing, aku ingin berkata sesuatu kepadamu. Aku tidak bisa lagi memendam perasaan ini, perasaanku kepadamu. Aku tahu kalau kamu tidak akan mungkin mau menerima cintaku saat ini. Dan aku mohon tunggu aku hingga nanti telah Allah tentukan di saat yang tepat dengan waktu yang tepat pula. Aku mohon Rika. Aku janji akan menjemputmu di saat yang tepat,” kata Diki temanku
Aku hanya menunduk mendengarnya
berkata seperti itu. Perkataan yang membuatku ketakutan akan jatuh cinta kepada
orang yang tidak tepat, aku takut kalau nanti aku tidak bisa menjaga
pandanganku dan juga hatiku. Aku takut menyakiti perasaan jodohku kelak.
“Terserah kamu! Tetapi aku akan kembali Ka, untukmu. Aku pergi ya,” katanya yang pergi meninggalkanku tanpa membawa respont balasan dariku
“Terserah kamu! Tetapi aku akan kembali Ka, untukmu. Aku pergi ya,” katanya yang pergi meninggalkanku tanpa membawa respont balasan dariku
Masih teringat jelas akan kisah dua
tahun lalu. Sudah hampir dua tahun itu pula, aku tak berjumpa dengannya dan
selama itu pula aku tak ada berkomunikasi dengannya. Tetapi, atas seizin Allah,
Dia mempertemukan kami di tempat ini.
“Rika, alhamdulillah.
Akhirnya, Allah izinkan kita untuk bertemu lagi,” katanya dengan wajah bahagia
“Diki, bagaimana kabar kamu?,” tanyaku
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Kamu jugakan?”
“Diki, bagaimana kabar kamu?,” tanyaku
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Kamu jugakan?”
Aku hanya menunduk karena keadaanku
saat ini lagi sedih. Melihat ekspresiku yang seperti itu. Diki pun merasa
kebingungan.
“Ka, kamu kenapa?,”
tanyanya
“Hari ini bundaku ulang tahun ki, tapi kuenya sudah hancur dan mukena yang ku belikan untuknya juga sudah kotor,” jelasku kepadanya
“Ya sudah kita beli lagi kuenya dan kalau masalah mukena, itukan bisa kita bersihkan,” katanya memberikan solusi kepadaku
“Dan masalahnya uang ku tidaklah cukup untuk membeli kue lagi”
“Kan ada aku”
“Tidak! Tidak!”
“Ka, aku mohon ambil ya! Kali ini saja ikuti keinginanku”
“Tapi ki”
“Ya sudah kalau nanti kamu sudah ada uang kamu ganti uang aku. Nah, pakai!,” katanya sambil memberika uang kepadaku
“Terima kasih ya,” sambungku dengan senyum
“Hari ini bundaku ulang tahun ki, tapi kuenya sudah hancur dan mukena yang ku belikan untuknya juga sudah kotor,” jelasku kepadanya
“Ya sudah kita beli lagi kuenya dan kalau masalah mukena, itukan bisa kita bersihkan,” katanya memberikan solusi kepadaku
“Dan masalahnya uang ku tidaklah cukup untuk membeli kue lagi”
“Kan ada aku”
“Tidak! Tidak!”
“Ka, aku mohon ambil ya! Kali ini saja ikuti keinginanku”
“Tapi ki”
“Ya sudah kalau nanti kamu sudah ada uang kamu ganti uang aku. Nah, pakai!,” katanya sambil memberika uang kepadaku
“Terima kasih ya,” sambungku dengan senyum
Entah mengapa jantungku masih saja
berdetak dengan kencang saat di dekatnya. Hal ini belum pernah aku rasakan
kepada siapapun kecuali dia. Dia yang mampu membuatku nyaman dan tenang.
“Ya Allah, aku masih menunggu jodohku hingga detik ini dan berpacu dengan rangkaian doa di sujudku serta rangkaian kata di diaryku. Jika dia yang ada di sampingku ini adalah jodohku, aku mohon jadikan dia imam yang senantiasa menuntunku untu selalu menuju jalan-Mu Ya Rabb,” kataku dalam hati
“Ya Allah, aku masih menunggu jodohku hingga detik ini dan berpacu dengan rangkaian doa di sujudku serta rangkaian kata di diaryku. Jika dia yang ada di sampingku ini adalah jodohku, aku mohon jadikan dia imam yang senantiasa menuntunku untu selalu menuju jalan-Mu Ya Rabb,” kataku dalam hati
Seiring
dengan berjalannya waktu, esok aku akan di wisuda untuk meraih gelar M.Pd ku.
Gelar yang ku harapkan akan hadir di belakang namaku dan esok akan menjadi
kenyataan dalam hidupku. Aku sangat bahagia dan berharap orang tuaku juga
bahagia karena putri mereka telah meraih pendidikannya dengan lancar karena doa
yang tak pernah putus untukku. Di hari bahagia itu pula, seseorang membawa
keluarganya untuk berjumpa dengan orang tuaku dengan alasan ingin melamarku.
Aku sangat bahagia karena dia ingin menghalalkanku dan memberanikan diri untuk
membawa orang tuanya dan bertemu dengan orang tuaku. Aku benar-benar terharu
melihatnya dan merasa kagum dengan apa yang sudah dia lakukan di hari ini. Sungguh,
ini takkan terlupakan.
Dia yang melamarku adalah seseorang
yang pernah memintaku untuk menunggunya
dan akan menjemputku di waktu yang tepat. Aku tidak percaya kalau dia akan
membuktikan janjinya itu. Padahal, kejadian itu adalah 2 tahun silam.
Kini aku dan dia telah menjadi
sepasang kekasih halal. Dia yang senantiasa menuntunku menuju jalan yang
diridhoi Allah. Di hari yang indah ini, aku pun mulai mengambil diary kecilku
dan menulisnya dengan pena hitamku agar kejadian ini terukir indah di diary
ini.
Dear diary
Hari ini aku telah menemukan dia, dia yang selalu aku ceritakan kepada Allah agar tetap menjaganya dan juga menuliskan tentang dia kepadamu diary. Kini dia telah menjadi suamiku. Suami yang senantiasa menuntunku menuju jalan-Nya. Aku bahagia, karena kini impianku jadi kenyataan. Setiap doa yang dia ucapkan selalu aku aamiinkan, shalat berjamaah dengan membentangkan sajadahku dan dia, membaca al-qur’an serta melakukan hal-hal baik bersamanya. Ya Rabb, aku mohon semoga hubungan kami ini akan tetap abadi hingga di surga-Mu nanti. Tetap jadikan dia imam untukku, bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat kelak!
Hari ini aku telah menemukan dia, dia yang selalu aku ceritakan kepada Allah agar tetap menjaganya dan juga menuliskan tentang dia kepadamu diary. Kini dia telah menjadi suamiku. Suami yang senantiasa menuntunku menuju jalan-Nya. Aku bahagia, karena kini impianku jadi kenyataan. Setiap doa yang dia ucapkan selalu aku aamiinkan, shalat berjamaah dengan membentangkan sajadahku dan dia, membaca al-qur’an serta melakukan hal-hal baik bersamanya. Ya Rabb, aku mohon semoga hubungan kami ini akan tetap abadi hingga di surga-Mu nanti. Tetap jadikan dia imam untukku, bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat kelak!
“Sayang, apa yang kamu tulis?,” tanyanya yang
tiba-tiba telah ada di sampingku
“Dulu sebelum aku menemukanmu, aku selalu menuliskan tentangmu di diary ini. Aku selalu menunggumu dan berharap segera kamu jemput. Dan aku berjanji jika nanti aku dan kamu telah dipersatukan oleh Allah di saat yang tepat, aku akan menunjukan diary ini sama kamu, suamiku. Bacalah!,” kataku memberika diary ku kepadanya
“Dulu sebelum aku menemukanmu, aku selalu menuliskan tentangmu di diary ini. Aku selalu menunggumu dan berharap segera kamu jemput. Dan aku berjanji jika nanti aku dan kamu telah dipersatukan oleh Allah di saat yang tepat, aku akan menunjukan diary ini sama kamu, suamiku. Bacalah!,” kataku memberika diary ku kepadanya
Dia pun membaca rangkaian kata yang
aku tulis selama ini tentang bagaimana cara aku menunggunya dan harapanku
tentangnya. Ketika dia membaca, aku menatapnya dalam-dalam dengan penuh rasa
syukur karena Allah telah mengirimkanku sosok lelaki sebaik dia untuk menjadi
imamku. Tanpa sadar, aku melihatnya meneteskan air mata ketika membaca lemaran
demi lembaran diary itu. Aku pun menghapus tetesan air matanya. Dengan perasaan
yang lembut, dia memelukku dengan erat seolah takut kehilanganku.
“Aku mencintaimu karena
Allah, istriku. Tetaplah di sini! Temani hari-hariku untuk menuju jalan-Nya,”
katanya tepat di telingaku
“Aku juga mencintaimu karena Allah, suamiku. Teruslah bimbing aku untuk meraih surga-Nya! Ajari aku untuk semakin dekat dengan-Nya!,” jawabku membalas perkataannya
Kami pun sama-sama untuk terus berjalan menuju setiap hal
yang diridhoi-Nya dan berharap kelak dialah pangeran syurgaku juga. Jodoh dunia
akhiratku
“Aku juga mencintaimu karena Allah, suamiku. Teruslah bimbing aku untuk meraih surga-Nya! Ajari aku untuk semakin dekat dengan-Nya!,” jawabku membalas perkataannya
Langganan:
Postingan (Atom)
