Di
keheningan malam, aku dan saudara kembarku terpaku menatap indahnya langit
malam yang dihiasi oleh cahaya bintang-bintang. Selalu sebelum tidur aku dan
saudara kembarku yang bernama Lala menghabiskan waktu malam kami di taman rumah
untuk membanggakan bintang kami masing-masing. Lala tidak pernah mau kalah
untuk mendapatkan bintang yang paling terang walaupun kecil karena baginya
walaupun bintang yang ia daparkan kecil ketika bersinar terang hal itulah yang
mampu membuatnya merasakan kedamaian dan serasa berguna bagi banyak orang.
“Li, itu bintangku ya,
cantikkan?,” tanya Lala padaku
“Cantikkan bintangku. Itu dia lebih besar daripada bintang kamu. Wek,” ejekku
kepada kembaranku
“Tapi bintangkulah yang paling terang, ia bersinar terang hingga cahayanya mampu
membuat bintang-bentang lain iri. Bintangku itu tak segan-segan untuk
mengeluarkan cahayanya demi menerangi dunia ini, ia selalu menjadi bermanfaat
untuk banyak orang. Hal itulah yang membuatku bahagia Li,” katanya kepadaku
“Iya deh iya, aku kalah. Bintangku bersat, tetapi dia tak bersinar terang
seterang bintangmu,” kataku mengakui kekalahan
“Aku sayang banget sama kembaranku yang cantik ini karena selalu mengalah demi
aku setiap kali kita menatap bintang dan saling membanggakan bintang kita
masing-masing. Tetap di sini ya! Jangan tinggalin aku seperti apapun
keadaannya! Aku sayang kamu,” kata Lala sambil memelukku dengan erat seakan
takut kehilanganku
“Aku juga sayang sama kamu,” jawabku membalas pelukannya
Hari pun semakin larut, aku dan Lala
masuk ke rumah. Keesokan harinya, di saat aku terbangun, wajah yang pertama
kaliku lihat adalah wajah saudara kembarku yang begitu masih polos walaupun
kini kami berdua sudahlah kelas tiga SMA. Wajah yang aku lihat ini tidak
seperti biasanya, wajah yang begitu pucat menurutku, dan ia masih nyaman
tertidur yang biasanya selalu bangun lebih awal dari aku. Aku pun memegang
keningnya, betapa panasnya. Aku benar-benar khawatir kepadanya.
“Mama, papa,” teriakku
memanggil orang tuaku dengan rasa cemas
“Ada apa Li?,” tanya mama yang bergegas menyahut teriakan ku
“Lala, kenapa nak?,” tanya mama sambil membuka pintu kamar kami
“Lili, tidak tahu ma. Badannya panas dan wajahnya pucat,” kataku sambil
menangis
“La, Lala, bangun sayang!”
“Iya ma,” jawabnya tiba-tiba seperti nada orang sakit
“Pa, bawa Lala ke rumah sakit. Hari ini dia tidak perlu ke sekolah!,” kataku
“Aku tidak kenapa-kenapa Lili. Tolong jangan khawatir! Ini juga akan sembuh
tanpa harus ke rumah sakit,” katanya
“Sayang, kita ke rumah sakit ya? Ayo nak!”
“Tidak ma, hari ini aku mau ke sekolah. Ini sudah mendekati akhir SMA ku”
“Ya sudah ma, kalau Lala mau ke sekolah. Aku janji akan jaga dia! Kalau ada
apa-apa aku langsung telpon mama atau papa,” kataku
“Tapi Li”
“Sudahlah ma, papa percaya sama mereka,” kata papa meyakinkan mama
“Ya sudahlah. La, kalau ada apa-apa langsung telpon mama ya”
“Baik mamaku sayang”
Dengan kepercayaan papa dan mama,
Lala dan aku segera bergegas beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk
pergi ke sekolah. Setelah selesai, tek seperti biasanya papa dan mama mengantar
kami ke sekolah, mungkin karena takut terjadi apa-apa pada Lala.
Pembelajaran dimulai, ku lihat
kembaranku wajahnya semakin pucat dan terlihat begitu lemas tak berdaya.
Perlahan demi perlahan, kepalanya terjatuh di atas meja. Aku yang begitu
khawatir langsung berteriak, teriakanku mampu membuat teman-teman dan juga guru
yang mengajar di depan memalingkan wajahnya ke arah aku dan kembaranku ini.
“Lala, bangun!,”
teriakku meminta Lala untuk bangun
“Ada apa Li?,” tanya guru
“Bu, si Lala tiba-tiba pingsan. Tolong bu!”
“Tenang-tenang La, jangan khawatir! Lebih baik kamu telpon orang tua kamu
sekarang nak!,” perintah ibu guru yang membuatku melupakan untuk mengabari mama
dan papa
Aku segera menelpon mama, dengan
keadaan aku yang masih khawatir karena keadaan Lala yang tak sadarkan diri di
jam pelajaran seperti ini. Lima belas menit kemudian, mama telah datang. Aku
dan yang lainnya sedang menjaga Lala di UKS. Karena paniknya mama langsung
membawa Lala ke rumah sakit. Aku pun ikut dengan mama untuk memastikan keadaan
Lala baik-baik saja tanpa ada penyakit di tubuhnya.
“Tuhan, aku mohon tetap lindungi Lalaku. Aku tidak ingin kehilangannya!,”
kataku dalam hati ini
Sesampai di rumah sakit, Lala
langsung diperiksa oleh dokter. Setelah semalam di rumah sakit, akhirnya test
pemeriksaan pun keluar. Papa dan Mama di panggil untuk menghadap dokter. Aku
ingin ikut, tetapi mama menghalangiku, dengan alasan aku harus menjaga Lala.
Namun, aku begitu penasaran. Hingga aku bertekad diam-diam menuju ruang dokter
yang sudah ada mama dan papa di dalamnya.
“Maafkan,
Lili ya pa, ma! Aku begini karena aku sayang sama kalian semua,” kataku dalam
hati
Dokter pun mulai membuka map yang
telah berisi hasil test kembaranku Lala, test yang bisa saja membuat ku bahagia
jika tidak ada penyakit ditubuhnya, dan membuatku down jika kutahu ada penyakit yang ia derita.
“Pak, bu, sebenarnya
berat sekali untuk memberitahukan tentang hasil test anak bapak dan ibu, tetapi
ini harus di sampaikan. Seberat apapun dan serumit apapun hal ini, saya harap
kalian tetap tegar, kalau anak kalian mengidap penyakit Leukimia yang hampir
memasuki stadium akhir,” jelas dokter yang sebenarnya tak ingin membuat
kesedihan
“Lala, tidak mungkin dok. Aku tahu kalau dokter pasti salah periksa, itu bukan
hasil test adik saya,” kataku yang membuat mama dan papa terkejut melihatku
telah ada di sana
“Li,” kata mama yang langsung memeluk
erat tubuhku
“Lala tidak mungkin terserang penyakit itu ma, pa. Dokter ini salah!,” kata ku
menangis tersedu-sedu
Papa dan mama menguatkanku agar Lala
juga kuat menghadapi penyakitnya. Aku, papa, dan mama tidak boleh menunjukkan
kesedihan kami di hadapan Lala karena hal itu juga mampu membuatnya bersedih.
Aku harus kuat dan membuat Lala bahagia. Aku janji akan menemaninya hingga dia
sembuh.
Hari demi hari, penyakit yang
diderita Lala semakin parah. Hingga hari itu membuatku meneteskan air mataku di
hadapannya.
“Li,
kenapa kamu sedih? Lalamu ini akan sembuh dan kita akan lihat bintang sama-sama
lagi. Tetap semangat dong demi aku!,” katanya menguatkanku
“Iya
adikku, kembaranku, dan juga sahabatku,” kataku menggenggam tangannya
Ia
memang tak pernah tahu penyakit apa yang menyerangnya hingga membuatnya tak
diizinkan pulang ke rumah dan bersekolah seperti aku. Namun, dia tetap
bersemangat yang justru membuatku kalah semangatnya dari dia.
Di
sekolah aku ditunjuk untuk pergi ke Singapure mengikuti cerdas cermat, jika aku
menang maka aku akan dibiayai untuk melanjutkan pendidikanku ke Singapure. Aku
menyesetujuinya tanpa memikirkan keadaan kembaranku yang masih terbaring lemah
di tempat tidur rumah sakit. Kabar bahagia ini ku beritahukan pada mama dan
papa, kalau tiga hari lagi test ini akan dimulai sehingga esok aku harus pergi
ke Singapure bersama wali kelasku. Papa dan mama sangat senang. Namun, di saat
aku memberi tahukan hal ini kepada Lala, ia tak mengizinkan aku pergi.
“Aku mohon Li, jangan
pergi tinggalkan aku!,” katanya sambil memegang tanganku
“La, aku pergi hanya 3 hari kok, begitu selesai lombanya aku janji langsung
pulang untuk menemui kamu!,” kataku
“Tapi, untuk saat ini saja jangan tinggalin aku!,” katanya mengulangi perkataan
sebelumnya
“Lalaku, ini kesampatan emas yang harus aku ambil dan tak boleh aku sia-siakan
karena ini sekali seumur hidup, semantara kalau kebersamaan kita, di hari
setelah aku pulang pun kita akan masih bertemu lagi”
“Ya sudah pergilah, kejar impianmu!”
“Terima kasih ya. Aku janji akan segera pulang dan menemui kamu”
Keesokan harinya aku pun pergi,
walaupun aku tahu Lala sangat enggan melepasku untuk pergi. Namun, ini demi
impianku untuk membuatnya bahagia juga.
Aku telah sampai di Singapure tepat
di Universitas kebanggaanku. Aku terlalaikan untuk menghubungi keluargaku kalau
aku sudah sampai karena indahnya dan bahagianya hatiku berada di sini. Hingga
keesokan harinya, mama menelponku dan menanyakkan kabarku serta memberikan
semangat kepadaku untuk lomba besok. Setelah itu, aku meminta mama untuk
memberikan ponselnya kepada Lala. Aku berbicara pada Lala.
“Hallo, Lala
kesayangannya Lili”
“Hallo juga sayang. Semangat ya buat besok, semoga apa yang kamu impikan jadi
kenyataan. Jangan lupa berdoa sertakan Allah untuk jalan hidupmu! Oh ya, coba
kamu lihat keluar dan lihat bintang yang paling terang, karena di sana ada
adikmu ini yang sedang tersenyum denganmu. Di saat kakakku ini, rindu sama aku.
Lihat saja bintang yang paling terang dimanapun nanti kamu berada”
“Iya iya, tenang saja deh. Ini untuk terakhir kalinya aku dan kamu melihat
bintang tidak lagi bersama. Besok setelah lomba, aku janji langsung pulang ke
Indonesia, negara tercinta yang di dalamnya ada orang kuat dan hebat seperti
kamu”
“Asallah. Ya sudah kamu tidur sana! Besok kesiangan lagi. Assalamualaikum”
“Baik bos. Waalaikum salam. Cepat sembuh ya!”
Keesokan harinya pun, lomba dimulai.
Aku tahu jantungku berdegup kencang, tetapi aku tak boleh mengecewakan mereka
yang telah mengizinkanku dan memercayaiku untuk ikut serta dalam lomba ini.
Pertanyaan demi pertanyaan pun, aku jawab dengan santai dan percaya diri yang
ternyata jawabanku rata-rata benar. Pengumuman pun akan diberitahukan, aku
sangat terkejut, namaku dipanggil sebagai pemenang juara ke-II dan diminta
untuk maju ke atas panggung.
Begitu selesai acara, aku langsung
meminta pulang kepada wali kelasku. Ponsel pun aku matikan agar mama tidak
menghubungi aku. Karena aku tahu pasti mama ingin tahu hasilnya, biarlah ini
menjadi kejutan di saat nanti aku sampai ke Indonesia.
Keesokan
harinya aku telah sampai di Indonesia, sebelum ke rumah sakit aku diantar terlebih
dahulu ke rumah. Sesampai di rumah, aku sangat kaget melihat telah adanya
bendera kuning tepat di depan rumahku. Ku jatuhkan semua yang ada di tanganku
dan berlari memasuki rumah yang telah ramai orang.
“Lala, bangun! Jangan
tinggalkan aku! Aku sudah menepati janjiku untuk segera pulang. Aku menang La,
lihat kakakmu ini dia sudah mendapatkan universitas impiannya. Aku mohon bangun
aku ingin menikmati kebagaian ini sama kamu. Bangun adikku!” teriakku menangis
“Nak, sudah ya! Jangan seperti ini!,” kata mama
“Mengapa mama tidak langsung kabari aku?,” kataku memarahi mama
“Mama dan papa sudah berusaha menelpon kamu, tetapi ponsel kamu tidak aktif”
Aku benar-benar menyesal karena
telah mematikan ponselku, tetapi dengan alasan yang baik aku ingin membuat mereka
bahagia. Namun, malah aku yang bersedih. Aku benar-benar menyesal. Mama pun
memelukku dan memberikan surat dengan selembar kertas kepadaku.
“Ini
dari Lala,” kata mama memberi surat dari Lala kepadaku
Aku pun membaca surat itu di hatiku
dengan disaksikan Lala yang sudah tak bernafas lagi dan telah pergi
meninggalkanku dan yang lainnya untuk selamanya.
“Assalamualaikum kembaranku, maafkan aku yang pergi tanpa seizinmu. Ini yang
aku takutkan sebelumnya kalau aku akan pergi untuk selamanya di saat tidak adanya
kamu di sampingku, menemaniku, dan menjagaku hingga detik terakhir aku bernafas
di dunia ini. Tetapi waktu itu kamu memaksaku untuk memberikan izin kepadamu
demi meraih impianmu. Aku juga yakin waktu itu masih ada pertemuan diantara
kita setelah kamu pulang dari Singapure, iya kita masih bertemu, tetapi dengan
aku yang sudah tak bisa memegang tanganmu, tertawa bersamamu, dan melihat
bintang bersamamu lagi. Dan kamu salah besar jika waktu itu di telpon kamu
berkata kalau itu adalah hal terakhir kalinya aku dan kamu melihat bintang
dalam keadaan tidak bersama, justru itu terakhir kalinya kamu mendengar suara
aku yang di saksiakan oleh jutaan bintang di langit, terakhir kalinya kita
melihat bintang masih di bawah langit yang sama meskipun dengan negara yang
berbeda. Kalau kamu mulai merindukanku lihatlah keluar, selalu ada bintang yang
bersinar terang untuk kamu. Ingat itu punyaku, adikmu! Ia akan tersenyum
melihatmu jika kamu juga tersenyum untuknya, dan jangan bersedih karena ia juga
akan bersedih! Dan tangannya takkan
sanggup meraih pipimu untuk menghapus air mata yang jatuh. Aku menyayangimu
karena Allah. Ikhlaskan aku untuk pergi! Tetap selalu banggai papa dan mama
karena harapan mereka ada pada kamu kembaranku. Putri mereka tinggal satu,
jangan kecewakan mereka! Kuatkan mereka dan yakinkan mereka kalau aku akan
bahagia jika melihat mereka bahagia di dunia! Dari kembaran, adik sekaligus
sahabat suka dukamu,” isi surat itu
Aku pun meneteskan air mataku di hadapannya, meskiku tahu
ia takkan suka jika melihatku menangis. Aku memeluknya dengan erat dan dengan
harapan kalau dia akan membalas pelukan ini dan menghapus air mata duka ini.
Aku tidak boleh berlarut dalam kesedihan karena hidup akan terus berjalan
dengan semestinya meskipun tanpa Lala di sini aku harus tetap kuat.